Tantangan Dunia Kesehatan di Era Perdagangan Bebas

Dunia perdagangan global akan memasuki babak baru di tahun 2020 yang disebut dengan era perdagangan bebas. Inti pokoknya dalam perdagangan bebas ini bahwa tidak ada lagi hambatan dalam menyelenggarakan perdagangan internasional. Di satu sisi, liberalisasi perdagangan jasa menjanjikan banyak dampak positif seperti terbukanya pasar untuk menjual barang dan jasa dari dan ke luar negeri, akan meningkatkan pendapatan, yang akhirnya berperan dalam meningkatkan kemakmuran negara-negara sedang berkembang. Tetapi, di sisi lain, liberalisasi punya dampak buruk yang patut untuk dicermati seperti meningkatnya penularan penyakit misalnya HIV/AIDS, flu burung, ebola, serta pencampuran budaya atau eradikasi budaya dan banyak lagi, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan dari satu negara ke negara lain.

Bentuk-bentuk perdagangan bebas bidang jasa berdasarkan kesepakatan GATS secara umum dapat dibedakan dalam emapt macam, yaitu:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kelompok jasa yang dapat dikonsumsi tanpa perlu mendatangi negara penghasil jasa (across a border) contoh : jasa konsultasi yang mempergunakan alat komunikasi seperti internet, televisi dll. Contoh bidang kesehatan adalah pelayanan medis jarak jauh.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Kelompok jasa yang untuk mengonsumsinya harus mendatangi negara penghasil jasa (through consumption aboard), contoh WNI pergi berobat ke luar negeri.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Kelompok jasa yang diselenggarakan oleh suatu sarana asing yang didirikan di suatu negara (through commercial presence), contoh pihak asing datang ke Indonesia untuk menanam modal untuk membuka rumah sakit di Indonesia.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Kelompok jasa yang diselenggarakan oleh tenaga kerja asing yang bekerja di suatu negara, contoh bidang kesehatan adalah dokter asing yang bekerja di Indonesia

Dalam bidang kesehatan era globalisasi lebih banyak diartikan pada perdagangan jasa pelayanan kesehatan, seperti yang tercantum dalam perjanjian GATS, poin nomor 4 dari perjanjian mengenai masuknya tenaga profesional kesehatan ke Indonesia. Perdagangan jasa pada era globalisasi berlangsung secara bebas. Pembatasan yang bersifat protektif, misal melalui lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti yang dilakukan oleh negara-negara berkembang lainnya, namun hal tersebut sudah tidak boleh dilakukan.

Indonesia merupakan negara yang cukup diminati oleh negara asing. Pertama karena memiliki potensi pasar yang besar terkait dengan jumlah penduduk yang besar. Kedua, sekarang ini kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup menjanjikan. Dengan potensi pasar yang besar tidak mengherankan jika kelak banyak dokter atau tenaga kesehatan asing yang berniat bekerja di Indonesia. Hal ini tampaknya menakutkan profesi kesehatan, karena ketakutan untuk bersaing, seperti kita ketahui kualitas sumber daya manusia kesehatan kita rendah serta penguasaan teknologi yang terbatas pula.

Seharusnya liberalisasi pada bidang kesehatan justru menjadi cambuk bagi kita, dimana kita perlu pemusatan diri untuk meningkatkan mutu atau profesionalisme sehingga apapun yang terjadi di masa mendatang dokter Indonesia tidak perlu takut lagi di negeri sendiri dan diluar negeri. Bila Indonesia dapat menambah jumlah, jenis serta dapat meningkatkan mutu dokter, dokter spesialis, maka akan turun minat rumah sakit asing di Indonesia mempekerjakan dokter asing, karena Indonesia sudah dapat memenuhi kuota dokter atau dokter spesialis dan biaya yang dikeluarkanpun relatif murah, sebab biaya mempekerjakan dokter asing lebih mahal. Kalau dianalisis dari sudut pandang yang lain, sebenarnya dokter Indonesia tidak perlu takut dengan masuknya dokter asing karena ada kemungkinan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh dokter asing tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kesehatan masyarakat Indonesia sebagai akibat dari sistem pendidikan serta latar belakang sosial budaya yang berbeda.

Upaya untuk meningkatkan daya saing tenaga dokter Indonesia dapat dilakukan dengan pertama, meningkatkan jumlah, jenis dan mutu tenaga profesional kesehatan Indonesia dengan penyempurnaan kurikulum, sistem pengajaran dan ujian, serta mengadakan program pendidikan kedokteran yang komprehensif sehingga dokter Indonesia punya standar yang bertaraf internasional, dan siap menghadapi serangan tenaga asing, atau terjadi perpinadahan para dokter Indonesia ke luar negeri karena sudah memilki standar internasional. Kedua, menetapkan kebijakan yang mengharuskan tenaga kesehatan asing mengikuti ujian profesi sesuai standar bila akan bekerja di Indonesia, serta memberlakukan peraturan timbal balik yang artinya dokter asing yang dibenarkan bekerja di Indonesia adalah yang berasal dari negara yang juga membolehkan dokter Indonesia bekerja di negara tersebut. Ketiga, Indonesia memerlukan lembaga yang dapat melakukan akreditasi kompetensi untuk menjaga profesionalisme para dokter yang berpraktik di Indonesia.

Bila pemerintah Indonesia tidak segera memperbaiki sistem pendidikan dan kebijakan dalam bidang kesehatan maka tenaga kesehatan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi akan dihadapkan pada dua pilihan : Jadi tuan rumah di negeri sendiri, atau tergusur. Atau jadi tuan rumah di negeri sendiri serta tamu terhormat di luar negeri.

Sumber : http://sutarmanisme.wordpress.com/2008/05/08/tantangan-dunia-kesehatan-di-era-perdagangan-bebas/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: