SEBUAH CATATAN SINGKAT HASIL RANGKUMAN MATERI PADA DEKLARASI DAN TALKSHOW IKATAN SARJANA GIZI (ISAGI) UNIVERSITAS HASANUDDIN

Hotel Grand Clarion Makassar, 10 Desember 2011

Oleh :

 Ramli A. Bidullah

(Dosen Promosi Kesehatan FKM Untika Luwuk & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin)

Mungkin pembaca akan sedikit bertanya-tanya, mengapa orang promosi kesehatan bicara tentang gizi?? Saya berprinsip bahwa masalah kesehatan harus diselesaikan dengan kerjasama antar program atau lintas sektor, masalah gizi bukan hanya masalah orang gizi saja. Dan sebagian kecil tugas orang promosi kesehatan adalah menyampaikan informasi-informasi yang terkait dengan penanggulangan masalah kesehatan yang kita hadapi saat ini.

Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil, kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak, terutama di daerah endemic, kekurangan vitamin A pada anak, anemia pada kelompok mahasiswa, anak-anak usia sekolah, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. Permasalahan tersebut harus ditangani secara sungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.

Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku. Transisi kesehatan ini pada dasarnya telah menciptakan beban ganda (double burden) masalah kesehatan.

  1. Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sementara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung.
  2. Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.
  3. Transisi gizi, ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih.
  4. Transisi perilaku, membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional menjadi modern yang cenderung membawa resiko.

Masalah kesehatan tidak hanya ditandai dengan keberadaan penyakit, tetapi gangguan kesehatan yang ditandai dengan adanya perasaan terganggu fisik, mental dan spiritual. Gangguan pada lingkungan juga merupakan masalah kesehatan karena dapat memberikan gangguan kesehatan atau sakit. Di negara kita mereka yang mempunyai penyakit diperkirakan 15% sedangkan yang merasa sehat atau tidak sakit adalah selebihnya atau 85%. Selama ini nampak bahwa perhatian yang lebih besar ditujukan kepada mereka yang sakit. Sedangkan mereka yang berada di antara sehat dan sakit tidak banyak mendapat upaya promosi. Untuk itu, dalam penyusunan prioritas anggaran, peletakan perhatian dan biaya sebesar 85 % seharusnya diberikan kepada 85% masyarakat sehat yang perlu mendapatkan upaya promosi kesehatan.

Dengan adanya tantangan seperti tersebut di atas maka diperlukan suatu perubahan paradigma dan konsep pembangunan kesehatan.

Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah gizi di indonesia sudah sangat banyak, anggaran yang dialokasikan untuk mengatasi masalah gizi mencapai jutaan bahan milyaran rupiah. Kebijakan pemerintah indonesia dapat dilihat dengan UU No 36 Tahun 2009 pada :

Pasal 142

  • Upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada kelompok rawan yaitu bayi dan balita, remaja perempuan, dan Ibu hamil dan menyusui
  • Pemerintah bertanggung jawab menetapkan standar angka kecukupan gizi, standar pelayanan gizi, dan standar tenaga gizi pada berbagai tingkat pelayanan
  • Pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam situasi darurat
  • Pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan dan informasi yang benar tentang gizi kepada masyarakat
  • Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan upaya untuk mencapai status gizi yang baik

Pasal 143

  • Pemerintah bertanggung jawab meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan  status gizi.

Selain itu pemerintah menunjukan keseriusan dalam menanggulanngi masalah kesehatan khususnya Gizi yang tertuang dalam RPJMN dan RPJMD 2010-2014

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL DAN DAERAH 2010-2014

  • Menurunkan prevalensi gizi kurang dari 18,4% menjadi 15%
  • Menurunkan prevalensi balita pendek dan sangat pendek dari 36,8% menjadi 32%.

Terlepas dari itu semua, pada waktu saya dan teman-teman mengikuti acara seminar atau deklarasi Ikatan Sarjana Gizi (ISAGI) Universitas Hasanuddin di Grand Hotel Clarion pada tanggal 10 Desember 2011, ada beberapa catatan-catatan penting hasil diskusi pada kegiatan tersebut yang sempat tersimpan di memory saya dan saya curahkan lewat tulisan sederhana ini.

Pada saat pemaparan tentang masalah gizi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. H. Rachmat Latief, Sp.PD., M.Kes

Setelah pemaparan terdapat beberapa solusi yang disampaikan untuk mengatasi masalah gizi di Dunia pada umumnya di Indonesia dan lebih khususnya di Sulawesi Selatan, :

  1. Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc

Ada sebuah pertanyaan sederhana namun sungguh sangat berat untuk dijawab, pertayaan Beliau untuk seluruh yang ada diruangan pada saat itu seperti ini “Apa yang belum dilakukan untuk mengatasi masalah gizi?” Telah banyak program, kebijakan yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah gizi namun masalah gizi masih tetap ada. Dana yang dikeluarkan untuk mengatasi masalah gizi sudah berjuta-juta bahkan milyaran rupiah namun masalah gizi belum dapat sepenuhnya diselesaikan, Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc, mengatakan bahwa dalam kebijakan menangani masalah gizi keliru dalam menentukan sasaran program. Beliau mengatakan masalah sesungguhnya adalah :

1. Masyarakat kita mengalami KRISIS pada PENDIDIKAN GIZI

   Pendidikan gizi sangat penting untuk diketahui masyakat umum. agar memperhatikan kesehatan ibu hamil dan janinnya

2. Keliru dalam menentukan prioritas penanggulangan masalah gizi.

Program penanggulangan masalah gizi seharusnya diprioritaskan pada MULAI TERJADINYA KONSEPSI PADA IBU SAMPAI PADA SERIBU HARI KEHIDUPAN ANAK. Karena pada saat proses kehamilan sampai seribu hari kehidupan anak menentukan kualitas sumber daya manusia yang dilahirkan, pada usia tersebut merupakan periodeemas yang biasa disebut Windows Oportunity.

            Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc, mengatakan mengapa tidak posyandu di prioritaskan pada anak Bawah Dua Tahun (BADUTA) sehingga secara kuantitas untuk mengatasi masalah gizi berkurang namun fokus pada anak BADUTA yang seharusnya diprioritaskan. Pendapat dan saran dari Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc, sudah seharusnya dilakukan saat ini tidak dapat lagi ditunda untuk mengatasi masalah gizi yang sedang kita hadapi, bukan hanya di sulawesi selatan tetapi di seluruh Indonesia sudah harus menerapkan apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc.

2. Dr. drg. A. Zulkifli Abdullah, M.Kes

Pendapat yang disampaikan oleh Dr. drg. A. Zulkifli Abdullah, M.Kes, beliau mengatakan bahwa untuk menanggulangi masalah gizi haruslah kita mempunyai data yang valid. Untuk mendapatkan data yang valid dan yang sebenarnya maka perlu dibentuk serta diperkuat SURVEILANS GIZI yang bersifat Komprehensip, sehingga kasus-kasus atau masalah gizi yang ada cepat terdeteksi atau lebih mudah ditemukan agar mempercepat penanganan masalah gizi tersebut.

Setelah pemaparan tentang masalah gizi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. H. Rachmat Latief, Sp.PD., M.Kes, pemateri selanjutnya adalah Prof. Nurpudji A. Taslim (Mohon maaf bila penulisan nama tidak sesuai).

Dalam materinya beliau mengatakan Kurang gizi pada ibu hamil berpengaruh pada janin. Pada masa janin disitulah pembentukan seluruh organ-organ tubuh, diantaranya pembentukan sel nefron pada ginjal, pembentukan sel otot jantung, hormon-hormon pertumbuhan. Apabila kebutuhan gizi pada saat janin tidak terpenuhi maka pembentukan organ-organ tersebut akan terganggu dan yang lebih parahnya terganggunya organ-organ tersebut akibat tidak terpenuhi nutrisi pada masa janin akan berpengaruh selama kehidupan. Ini yang dinamakan dengan FETAL PROGRAMING.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kegiatan penanggulangan masalah gizi dapat dilakukan dengan :

–          Cegah infeksi pada masa kehamilan

–          Cegah ibu hamil usia muda

–          Penjarangan kehamilan

–          Kurangi beban kerja Ibu

Kesimpulan dari materi yang disampaikan oleh Prof. Nurpudji A. Taslim, untuk menciptakan Sumber Daya Manusia indonesia yang handal, UTAMAKAN NUTRISI IBU HAMIL.

Setelah Prof. Nurpudji A. Taslim menyampaikan materi, Pemateri selanjutnya Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D.

Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D. menyampaikan materi yang tidak jauh berbeda dengan pemateri sebelumnya, beliau menyampaikan bahwa Mekanisme terjadinya penyakit khususnya penyait degeneratif bisa dikatakan diakibatkan karena mallnutrition pada saat janin atau pada saat masa FETAL PROGRAMING. Misalnya gangguan gizi pada minggu ke-3 umur janin akan mempengaruhi pembentukan sel saraf pada anak, dari minggu ke-3  sampai minggu ke-8 pembentukan otot jantung, apabila waktu pembentukan tidak didukung dengan kecukupan nutrisi akan mempengaruhi pembentukan otot jantung dan akan permanen selama kehidupan seorang manusia. Begitu pula dengan pembentukan organ-organ tubuh lainnya.

Selain itu, Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D. mengatakan selain nutrisi pada ibu hamil dipenuhi, ibu hamil juga diberikan stimulus yang positif, misalnya ibu hamil harus lebih banyak tersenyum, tidak marah-marah karena akan berpengaruh pada janin, secara psikologi ibu hamil harus selalu diberikan stimulus yang positif memberikan energi positif pada janin yang dikandungnya.

Disisi lain selain keterpenuhan nutrisi ibu hamil, yang perlu diperhatikan adalah nutrisi atau makanan yang diberikan kepada ibu hamil mempunyai BERKAH dari ALLAH. SWT, agar memberikan dampak positif bagi janin dan kelak menjadi anak yang Cerdas secara Intelektual, Emosional dan Spritualnya.

Sebagai Kesimpulan Bahwa :

“UNTUK MENGATASI MASALAH GIZI, LAKUKAN PENDIDIKAN GIZI DAN PRIORITASKAN PADA AWAL TERJADI KONSEPSI SAMPAI 1000 (SERIBU) HARI KEHIDUPAN ANAK”

“KESEHATAN IBU HAMIL DAN JANIN SANGAT MENENTUKAN KEHIDUAN AKAN DATANG SEORANG MANUSIA”

“BILA INGIN MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA, MULAILAH DENGAN MENJAGA KESEHATAN IBU HAMIL DAN JANIN”

“BERIKAN STIMULUS POSITIF SERTA MEMPERHATIKAN KEBERKAHAN NUTRISI YANG DIBERIKAN PADA IBU HAMIL AGAR MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA YANG CERDAS INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPRITUALNYA”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: