NIAT ITUPUN MASIH TERTUNDA MENJADI IMPIAN DAN HARAPAN

Sebuah Catatan dan DOA Untuk Kedua Orang Tuaku

Di Hari IDUL ADHA 1433 H

 

Tulisan ini merupakan catatan hidup sekaligus Doa saya untuk Kedua Orang Tuaku serta tulisan ulangan (edisi revisi) yang pernah saya tulis pada Hari Raya Idul Adha 1432 H Tahun lalu judulnya “IMPIAN YANG TERTUNDA”. Sebuah catatan yang selalu mengingatkan akan niat besar kedua orang tua saya untuk menunaikan IBADAH HAJI ke Tanah Suci Mekkah. Tulisan ini siapapun yang membacanya semoga memberikan inspirasi mental untuk selalu menyayangi, menghargai dan menghormati serta membahagiakan Kedua Orang Tua Kita.

Hari ini Takbiran berkumandang disegala penjuru Nusantara, mengumandangkan memuji Kebesaran ALLAH SWT, hari inipun aku mengungkapkan segenap Hati dan pikiriranku yang sesekali disertai tetesan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Ungkapan rasa rindu yang tak terbendung kepada kedua orang tuaku yang jauh saat ini tapi aku bersyukur masih dapat mendengar suara merdu mereka melalui telefon.

Dua hari sebelum Hari Raya HP saya berdering setelah saya melihatnya ternyata mama saya menelfon, saya langsung mengangkatnya setelah salam pertanyaan yang keluar dari suara mama saya adalah “…ambi sudah dimana?…” saya menjawab “…saya masih di Makassar ma..” tanpa terasa air mata saya menetes, saya berfikir mungkin mama saya berfikir saya akan pulang mungkin saya sudah di luwuk, dan saya juga berfikir mengapa saya tidak memberikan kabar kepada mereka kalau saya tidak bisa merayakan Idul Adha bersama mereka, ternyata mereka mengharapkan saya bisa pulang mereka merindukan anak mereka. Setelah saya menjelaskan alasan saya tidak bisa pulang mama saya berkata “…iye tidak apa-apa yang penting kita semua masih sehat-sehat dimanapun merayakan Idul Adha…”.

Setiap datangnya Hari Raya Idul Adha atau biasa disebut Hari Raya Haji karena dilaksanakan bersamaan dengan Wukufnya jamaah haji di padang Arafah, juga disebut dengan Hari Raya Kurban karena memperingati sebuah peristiwa besar pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim AS yang mendapatkan Petunjuk dari ALLAH SWT untuk menyembelih Anaknya ISMAIL AS. Tidak berbeda jauh dengan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri, Takbirpun dikumandangkan pada perayaan Idul Adha. Mendengar suara Takbir dikumandangkan terbayang jelas wajah Papa dan Mamaku, orang yang aku sayangi terbayang wajah mereka tersenyum, terbayang wajah mereka tertawa, terbayang wajah mereka ketika memeluk orang yang mereka sayangi dengan penuh keikhlasan.

Mendengar suara Takbir teringat ekspresi mamaku ketika mendengar Takbir, ada sesuatu yang sungguh luar biasa dan sangat aku kagumi dari sosok mamaku yakni setiap kali mendengar Takbir dikumandangkan mamaku selau meneteskan air mata. Melihat sikap mamaku seperti itu aku berfikir mungkin inilah yang disebutkan dalam Al-Quran yang artinya kurang lebih seperti ini “Salah satu tanda-tanda orang beriman yakni ketika disebut nama ALLAH bergetarlah hati mereka” dan aku yakin kedua orang tuaku Insya Allah termasuk golongan orang-orang yang dimaksud dalam Al-Quran tersebut dan Insya Allah kami semua termasuk dalam golongan orang-orang dimaksud. Amin…Amin…Amin… Ya Rabbilalamin………

Setiap musim Ibadah Haji kita selalu mendengarkan kalimat “Labbaikallahummalabbaik…” dan setiap kali aku mendengar kalimat itu air mataku menetes membasahi kedua pipiku mengingat papa dan mamaku yang telah lama punya keinginan untuk menunaikan panggilan Allah SWT ke Tanah Suci untuk menyempurnakan Rukun Islam mereka, terlebih ibuku, namun sampai saat ini keinginan mereka belum tercapai, yang lebih membuat aku selalu meneteskan air mata ketika musim haji tiba adalah mengingat peristiwa pada waktu aku kuliah S1, Papa dan mamaku mengikuti arisan haji. Belum cukup uang yang mereka kumpulkan saya diperhadapkan dengan kesulitan biaya kuliah pada waktu itu saya di semester III. Tidak ada cara lain yang ditempuh akhirnya Papa dan mamaku memutuskan mengambil tabungan mereka untuk biaya kuliah saya, peristiwa itu selalu ada dalam pikiranku. Betapa besarnya pengorbanan mereka demi anak mereka merelakan keinginan mereka.

Saat ini saya tidak bisa merayakan Idul Adha bersama mereka untuk yang kesekian kalinya, rasa sedih ada dalam hatiku tapi aku yakin inilah jalan Allah yang diberikan kepadaku. Saya hanya bisa berdoa agar mereka diberikan KESEHATAN, KESELAMATAN dan UMUR PANJANG serta KECERIAAN, KEGEMBIRAAN. Oleh karena itu, dihari ini aku berdoa kepada ALLAH untuk kedua orang tuaku tercinta:

“Ya Allah meskipun aku tidak bersama dengan mereka pada Idul Adha kali ini namun aku memohon kepada-Mu Ya Allah… Berikan KESEHATAN, KESELAMATAN dan UMUR PANJANG serta KECERIAAN, KEGEMBIRAAN kepada mereka, berikanlah kemurahan REZKI-MU kepada mereka dan kepada kami anak-anaknya yang selalu menyayangi mereka agar dapat menunaikan keinginan kedua Orang Tua kami untuk menyempurnakan Rukun Islam mereka dengan menunaikan Ibadah Haji ke Baitullah….

Ya Allah… Ya Rahman… Ya Rahim…

Nilailah pengorbanan kedua orang tua kami selama ini seperti Engkau menilai pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Anaknya Ismail AS…..

Ya Allah… Bisikan kata hatiku ini kepada hati dan pikiran papa dan mamaku :

“Papa..Mama.. meski aku tidak bersama papa dan mama pada Idul Adha kali ini namun aku yakin dalam setiap sujud, dalam setiap doa, dalam setiap hembusan nafas papa mama selalu ada doa terselip untuk anak-anakmu. Akupun berdoa dan berusaha berbuat yang terbaik agar dapat menunaikan keinginan papa mama untuk menyempurnakan Rukun Islam Papa Mama.

Ya Allah… Qabulkanlah permohonanku ini agar aku bisa melakukan yang terbaik untuk papa mama agar aku menjadi anak yang Sholeh…. Amin… Amin… Amin… Ya Rabbilalamin…

DAN IMPIAN ITUPUN MASIH TERTUNDA…

Papa Mama jangan bersedih… Insya Allah keinginan Papa Mama akan terwujud… sekarang ini keinginan Papa dan Mama Hanya TERTUNDA….

HANYA SATU PINTAKU YA ALLAH… QABULKANLAH NIAT KEDUA ORANG TUAKU DENGAN MEMBERIKAN KEMUDAHAN MENCARI REZEKI YANG HALAL…. AMIIIIN

Terima Kasih PAPA MAMA DOA KALIAN SELALU MENYERTAIKU…..

(RAMLI A. BIDULLAH).

Iklan

IMPIAN YANG TERTUNDA

Sebuah Catatan dan DOA Untuk Kedua Orang Tuaku

Di Hari IDUL ADHA 1432 H

Hari ini Takbiran berkumandang disegala penjuru Nusantara, mengumandangkan memuji Kebesaran ALLAH SWT, hari inipun aku mengungkapkan segenap Hati dan pikiriranku yang sesekali disertai tetesan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Ungkapan rasa rindu yang tak terbendung kepada kedua orang tuaku yang jauh saat ini tapi aku bersyukur masih dapat mendengar suara merdu mereka melalui telefon.

Setiap datangnya Hari Raya Idul Adha atau biasa disebut Hari Raya Haji karena dilaksanakan bersamaan dengan Wukufnya jamaah haji di padang Arafah, juga disebut dengan Hari Raya Kurban karena memperingati sebuah peristiwa besar pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim AS. Tidak berbeda jauh dengan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri, Takbirpun dikumandangkan pada perayaan Idul Adha. Mendengar suara Takbir dikumandangkan terbayang jelas wajah Papa dan Mamaku, terbayang wajah mereka tersenyum, terbayang wajah mereka tertawa, terbayang wajah mereka ketika memeluk orang yang mereka sayangi dengan penuh keikhlasan.

Mendengar suara Takbir teringat ekspresi mamaku ketika mendengar Takbir, ada sesuatu yang sungguh luar biasa dan sangat aku kagumi dari sosok mamaku yakni setiap kali mendengar Takbir dikumandangkan mamaku selau menangis. Melihat sikap mamaku seperti itu aku berfikir mungkin inilah yang disebutkan dalam Al-Quran yang artinya kurang lebih seperti ini Selengkapnya Klik disini

HARI INI USIAKU 24 TAHUN

oleh Ramli A Bidullah pada 25 Mei 2011 jam 9:24

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh….

Hari ini tepatnya tanggal 25 mei 2011 Allah SWT memberikan kesempatan bertambah satu tahun usia saya menjadi 24 tahun setelah 23 tahun saya melewati kehidupan di dunia ini. Sepanjang 23 tahun saya menjalani fase kehidupan sebagai hambah dan sebagai khalifah, sesungguhnya saya menyadari waktu 23 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani setiap jengkal kehidupan. Sungguh banyak kejadian, tidak sedikit peristiwa yang tercatat dalam memori saya. Oleh karena itu di usia saya yang ke-24 ini saya sedikit menceritakan proses perjalanan hidup saya yang masih sempat teringat di ingatan saya, mudah – mudahan hanya sedikit kekeliruan atau keterlupaan sejarah kehidupan pribadi saya. Tujuan saya menulis cerita kehidupan saya (history of my life) agar saya tidak menjadi seorang insane, seorang hambah, seorang khalifah yang lupa terhadap sejarah diri sendiri atau saya tidak ingin menjadi orang yang lupa akan diri sendiri.

Disebuah desa yang jauh dari keramaian kota, kebisingan, Desa yang sejuk, tentram, hidup keluarga sederhana, itulah keluarga saya, Ayah saya bernama AMAD ACHMAD BIDULLAH dan Ibu saya namanya RAHMAH LUMUAN, saya mempunyai lima orang saudara namun Baca Selengkapnya