Seminar PBL Mahasiswa FKM Untika Kec. Nuhon

Materi Orasi Ilmiah Pada Seminar PBL Mahasiswa FKM Untika Kec. Nuhon Orasi Imiah Nuhon 2013

Iklan

KUALITAS KEHIDUPAN MANUSIA DITENTUKAN OLEH KESEHATANNYA KETIKA BERADA DALAM KANDUNGAN

Sumbangan Pemikiran

Di Hari Kesehatan Nasional Ke – 48

Ramli A. Bidullah

(Dosen Promosi Kesehatan FKM Untika Luwuk & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…..

Indonesia Cinta Sehat “Ibu Selamat Anak Sehat”

Kesehatan Bukanlah Segalanya, Tapi Tanpa Kesehatan Segalanya Tidak Akan Berarti” Itulah Pepatah dalam dunia kesehatan yang sering kita dengar, kita lihat bahkan telah kita terapkan dalam keseharian kita. Namun sering kita melupakan pentingnya kesehatan sehingga kita kehilangan segalanya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa telah banyak upaya dan kerja keras yang dilakukan semua pihak untuk mengatasi masalah kesehatan di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Banggai  dan Banggai Kepulauan pada khususnya, baik upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, namun tidak dapat dinafikan bahwa hasil dari upaya yang dilakukan masih jauh dari harapan kita semua.

Salah satu masalah kesehatan yang menjadi indikator keberhasilan suatu Negara yaitu Kesehatan Ibu dan Anak seperti tercantum dalam Goal 4 dan Goal 5 Millenium Development Goals (MDGs). Sesuai dengan Tema Hari kesehatan Nasional (HKN) Ke – 48 yaitu Indonesia Cinta Sehat “Ibu Selamat Anak Sehat”, hal ini menunjukan Baca Selengkapnya

SEBUAH CATATAN SINGKAT HASIL RANGKUMAN MATERI PADA DEKLARASI DAN TALKSHOW IKATAN SARJANA GIZI (ISAGI) UNIVERSITAS HASANUDDIN

Hotel Grand Clarion Makassar, 10 Desember 2011

Oleh :

 Ramli A. Bidullah

(Dosen Promosi Kesehatan FKM Untika Luwuk & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin)

Mungkin pembaca akan sedikit bertanya-tanya, mengapa orang promosi kesehatan bicara tentang gizi?? Saya berprinsip bahwa masalah kesehatan harus diselesaikan dengan kerjasama antar program atau lintas sektor, masalah gizi bukan hanya masalah orang gizi saja. Dan sebagian kecil tugas orang promosi kesehatan adalah menyampaikan informasi-informasi yang terkait dengan penanggulangan masalah kesehatan yang kita hadapi saat ini.

Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil, kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak, terutama di daerah endemic, kekurangan vitamin A pada anak, anemia pada kelompok mahasiswa, anak-anak usia sekolah, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. Permasalahan tersebut harus ditangani secara sungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.

Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku. Transisi kesehatan ini pada dasarnya telah menciptakan beban ganda (double burden) masalah kesehatan.

  1. Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sementara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung.
  2. Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.
  3. Transisi gizi, ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih.
  4. Transisi perilaku, membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional menjadi modern yang cenderung membawa resiko.

Masalah kesehatan tidak hanya ditandai dengan keberadaan penyakit, tetapi gangguan kesehatan yang ditandai dengan adanya perasaan terganggu fisik, mental dan spiritual. Gangguan pada lingkungan juga merupakan masalah kesehatan karena dapat memberikan gangguan kesehatan atau sakit. Di negara kita mereka yang mempunyai penyakit diperkirakan 15% sedangkan yang merasa sehat atau tidak sakit adalah selebihnya atau 85%. Selama ini nampak bahwa perhatian yang lebih besar ditujukan kepada mereka yang sakit. Sedangkan mereka yang berada di antara sehat dan sakit tidak banyak mendapat upaya promosi. Untuk itu, dalam penyusunan prioritas anggaran, peletakan perhatian dan biaya sebesar 85 % seharusnya diberikan kepada 85% masyarakat sehat yang perlu mendapatkan upaya promosi kesehatan.

Dengan adanya tantangan seperti tersebut di atas maka diperlukan suatu perubahan paradigma dan konsep pembangunan kesehatan.

Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah gizi di indonesia sudah sangat banyak, anggaran yang dialokasikan untuk mengatasi masalah gizi mencapai jutaan bahan milyaran rupiah. Kebijakan pemerintah indonesia dapat dilihat dengan UU No 36 Tahun 2009 pada :

Pasal 142

  • Upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada kelompok rawan yaitu bayi dan balita, remaja perempuan, dan Ibu hamil dan menyusui
  • Pemerintah bertanggung jawab menetapkan standar angka kecukupan gizi, standar pelayanan gizi, dan standar tenaga gizi pada berbagai tingkat pelayanan
  • Pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam situasi darurat
  • Pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan dan informasi yang benar tentang gizi kepada masyarakat
  • Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan upaya untuk mencapai status gizi yang baik

Pasal 143

  • Pemerintah bertanggung jawab meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan  status gizi.

Selain itu pemerintah menunjukan keseriusan dalam menanggulanngi masalah kesehatan khususnya Gizi yang tertuang dalam RPJMN dan RPJMD 2010-2014

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL DAN DAERAH 2010-2014

  • Menurunkan prevalensi gizi kurang dari 18,4% menjadi 15%
  • Menurunkan prevalensi balita pendek dan sangat pendek dari 36,8% menjadi 32%.

Terlepas dari itu semua, pada waktu saya dan teman-teman mengikuti acara seminar atau deklarasi Ikatan Sarjana Gizi (ISAGI) Universitas Hasanuddin di Grand Hotel Clarion pada tanggal 10 Desember 2011, ada beberapa catatan-catatan penting hasil diskusi pada kegiatan tersebut yang sempat tersimpan di memory saya dan saya curahkan lewat tulisan sederhana ini.

Pada saat pemaparan tentang masalah gizi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. H. Rachmat Latief, Sp.PD., M.Kes

Setelah pemaparan terdapat beberapa solusi yang disampaikan untuk mengatasi masalah gizi di Dunia pada umumnya di Indonesia dan lebih khususnya di Sulawesi Selatan, :

  1. Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc

Ada sebuah pertanyaan sederhana namun sungguh sangat berat untuk dijawab, pertayaan Beliau untuk seluruh yang ada diruangan pada saat itu seperti ini “Apa yang belum dilakukan untuk mengatasi masalah gizi?” Baca Selengkapnya